Selamat pagi! Yuk baca kisah petugas karantina #KerjaNyata #KawalDaulatPangan #Note Penunggu Bawang

Penunggu Bawang

Siang yang cukup menyengat di sebuah kota pesisir timur Riau. Kota minyak yang konon kabarnya juga penuh dengan kisah penyelundupan. Seorang kawan yang telah lama bertugas di kota ini, sambil menyetir santai bercerita tentang serunya bekerja di sini.

Kota ini, tampaknya tidak terlalu besar. “Tapi jangan salah, segala macam barang bisa turun di sepanjang garis pantainya”, kata kawan saya, “di sini, bawang merah bisa masuk dari mana saja, Pak.”

Petugas karantina memang tidak banyak di sini, bisa dihitung dengan jari. Penyelundup dengan berbagai modus dan kenekatannya jadi ‘makanan’ sehari-hari teman-teman di sini.

“Takut gak, Pak?” tanya saya penasaran.

“Ah…, sudah biasa saya diancam di sini Pak. Dulu waktu kami rapat sama LSM, penyelundup itu marah-marah hingga membalik meja. Mereka juga mengancam akan mendatangkan massa yang lebih besar untuk membakar kantor kita. Ada pula yang menjarah bawang yang sedang kita tahan. Kami pun gantian jaga tiap malam di atas tumpukan bawang. Petugas kita ada yang dilempar pisau saat bertugas jaga,” sambil tertawa dia bercerita.

Tak lama, dia tunjukkan foto yang sedikit kabur, tapi jelas terlihat tumpukan bawang setinggi kantor dan papan seadanya untuk alas duduk petugas yang tengah siaga. Luar biasa! Sampai tidak percaya saya melihatnya.

“Pedes gak, Pak?”

“Yah, dah kebal hidung dan mata kami.” Hehehe, lucu tapi ngenes.

Masih sambil menunjuk foto tadi, kawan saya berkata, “Bawang ini yang akan kita musnahkan esok hari. Semoga gak terjadi apa-apa dengan kami.”

Sudah ribuan ton bawang merah mungkin yang telah dimusnahkan kawan saya ini. Ancaman dan tawaran rupiah sudah menjadi makanan sehari-hari. Tapi, salut! Memang tampak gagah betul kawan saya ini. Dia bisa bercerita lancar sekali tanpa takut sedikitpun.

Kembali rasa penasaran saya muncul, “Pak, masak sih gak takut sama sekali?”

Dia tersenyum dan menerawang. Pernah, sekali katanya. Saat itu penyelundup mengancam, “Hati-hati dengan keluarga kamu. Kami bisa lebih dari ini.” Sebagai manusia biasa, anjloklah kejantanannya. Namun, kembali imannya menguat dan seketika tumbuh keberaniannya.

“Demi negara ini, saya rela seperti ini. Hanya Tuhan yang saya yakini bisa menjaga saya dan keluarga. Jadi buat apa saya takut? Biasa aja itu Pak,” sambil tertawa dia menutup ceritanya.