Kementan Lepas Ekspor Perdana Tepung Kelapa Banggai ke Jerman

Luwuk - Petani Kelapa di Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah boleh bangga, pasalnya buah kelapa yang dihasilkan dan telah diolah menjadi tepung kini bisa tembus pasar ekspor.

Tepung kelapa atau Descoated Coconut yang menjadi primadona produk pertanian ekpor baru asal Sulteng inipun bahkan bisa di ekspor langsung dari Luwuk.

"Patut kita apresiasi, ekspor dalam bentuk olahan setengah jadi dan juga langsung. Nilai tambah bisa dirasakan langsung oleh masyarakat Luwuk," kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) saat meninjau industri olahan kelapa di Desa Kayutanyo, Kec. Luwuk Timur, Kab. Banggai, Sulteng (23/8).

Peninjauan yang dilakukan guna memastikan 50 ton tepung kelapa dengan nilai ekonomi sebesar Rp 810 juta telah memenuhi persyaratan ekspor ke Jerman.

Menurut Jamil, sebelum diekspor pihaknya melakukan serangkaian tindakan pemeriksaan karantina yang sesuai dengan persyaratan teknis negara tujuan.

Layanan karantina dimulai dari pengajuan Permohonan Pemeriksaan Karantina (PPK) yang  dilakukan secara online oleh eksportir. "Tidak perlu antri, dapat dilakukan dimana dan kapan saja," terang Jamil.

Kualitas, kuantitas dan kontinuitas produk unggulan perlu ini  dijaga. Budidaya berkelanjutan yang dimulai dari pemilihan benih unggul, pertanaman yang baik dan pengendalian hama yang tepat menjadi penting untuk menjaga K3 komoditas ekspor.

Selanjutnya produk yang berlimpah, berkualitas dan bebas hama penyakit miliki peluang di pasar ekspor.

Sebagai otoritas karantina, Barantan menjadi penjamin kesehatan dan keamanan sesuai dengan standar perdagangan internasional.

Tidak Ada Hambatan Tarif, Persyaratan Teknis Menjadi Kunci

Dalam persaingan pasar global yang tidak lagi menjadikan tarif sebagai hambatan, Non-Tariff Barriers maka persyaratan teknis, menjadi hal penting.

Harmonisasi aturan SPS dengan negara mitra dagang menjadi kunci invansi produk pertanian kita di pasar global.

Penguatan sistem perkarantinaan untuk melindungi kelestarian SDA hayati sekaligus memainkan peran dalam mendorong kinerja ekspor pertanian, menjadi amanah Barantan sebagai bagian dari unit kerja di Kementan.

"Ini sejalan dengan instruksi Mentan dan juga cita-cita kita semua untuk mewujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia," jelas Jamil.

Bupati Banggai Ajak Giatkan Ekspor

Bupati Banggai, Herwin Yatim yang turut hadir dan melepas ekspor menyampaikan  apresiasinya kepada Kementan. Pembangunan pertanian yang berbasis kawasan mulai dirasakan manfaatmya.

Bupati menyebutkan, kini jajarannya dapat mengintegrasikan investasi di wilayahnya dengan potensi yang ada.

Contohnya, potensi kelapa di Banggai yang besar dan dilanjutkan dengan investasi industri di bidang tepung kelapa. Produk berlimpah, industri olahan tersedia dan pasar ekspor yang terbuka, jelas Bupati.

Herwin juga mengajak pihak-pihak terkait agar dapat memanfaatkan fasilitas ekspor langsung di Pelabuhan Tangkiang di Luwuk. Ekspor dan investasi untuk kesejahteraan masyarakat, tegasnya.

Kinerja Ekspor Pertanian Provinsi Sulteng Meningkat

Saat ini, komoditas unggulan ekspor asal Provinsi Sulteng berupa getah pinus, kayu ebony, kopra, cengkeh, kakao biji, rumput laut, dan rotan.

Sementara negara tujuan ekspornya meliputi Cina, Pakistan, India, Jepang, Belanda, Singapura, Taiwan, Malaysia hingga Argentina.

Kepala Karantina Pertanian Palu, IB Soma Wijaya menyambut baik upaya Bupati Banggai untuk mendorong dibukanya pelabuhan ekspor.

Pasalnya, berdasarkan data dari sistem otomasi perkarantinaan IQFAST di wilayah kerjanya tahun 2018 tercatat nilai ekonomi ekspor pertania mencapai Rp 72 miliar.

Sementara di tahun 2019 hingga bulan Juli  telah mencapai Rp 94 miliar. Melampaui pencapai tahun lalu sebesar 22%, dan diprediksi bakal meningkat signifikan hingga akhir tahun, pungkas Soma.

Please follow and like us: