Skip to content Skip to left sidebar Skip to right sidebar Skip to footer

Bulan: Oktober 2019

PERKETAT PENGAWASAN, KARANTINA PERTANIAN PEKANBARU KEMBALI GELAR PATROLI.

Dumai – Karantina Pertanian Pekanbaru bersama Kepolisian gelar patroli terpadu di Jalan Raya Soekarno Hatta, Dumai, Riau semalam (31/10). Patroli dilakukan dalam rangka memperketat pengawasan masuknya media pembawa yang berpotensi membawa penyakit demam babi afrika (African Swine Fever) ke Wilayah Indonesia. Media pembawa yang dimaksud adalah hewan babi, daging babi dan olahannya yang berasal dari luar negeri.

Patroli digelar kurang lebih 4 jam dengan melibatkan 4 anggota Kepolisian dari Polsek Dumai Timur dan 12 orang Petugas Karantina Pertanian Pekanbaru. Patroli dilakukan dengan cara mengawasi, memberhentikan dan memeriksa dokumen dan muatan alat angkut yang melintas dari arah pelabuhan-pelabuhan yang ada di pesisir pantai Dumai.

 “Patroli merupakan salah satu upaya untuk meniadakan kesempatan pelaku melakukan penyelundupan barang yang tidak dilengkapi Sertifikat Kesehatan. Hal ini untuk menjamin kesehatan dan keamanan barang yang dimasukan dari luar negeri khususnya bahan pangan masyarakat,” ujar Ferdi, Kepala Seksi Pengawasan & Penindakan Karantina Pertanian Pekanbaru.

Diketahui bahwa Dumai merupakan tempat yang banyak terdapat pelabuhan-pelabuhan tidak resmi sehingga rawan adanya pemasukan barang ilegal dari luar negeri khususnya Malaysia.

Menurut Kanit Reskrim Polsek Dumai Timur, Saudi, yang turut memimpin jalannya patroli, Jalan Raya Soekarno Hatta-Dumai merupakan jalur yang sering dilalui para penyelundup dari pelabuhan-pelabuhan menuju kota Pekanbaru dan sekitarnya.

“Di jalan ini kita sering menangkap aneka barang selundupan seperti bawang, pakaian bekas, narkoba, dan barang lainnya dari Malaysia”, ujar Saudi.

 

Menurut laporan organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) saat ini sedang mewabah penyakit Demam Babi Afrika (African Swine Fever) yang semakin meluas di beberapa negara Asia seperti Filipina, Korea Selatan, Cina, Hongkong, Laos, Myanmar serta beberapa negara Eropa dan Afrika lainnya, oleh karena itulah perlu mewaspadai masuknya penyakit tersebut dari luar negeri. Selain itu seperti biasa Karantina Pekanbaru juga mengantisipasi masuknya komoditas tumbuhan ilegal seperti bawang merah, bawang bombai dan buah-buahan.

Selama pelaksanaan patroli, petugas telah memeriksa sebanyak 46 alat angkut yang terdiri dari berbagai jenis seperti truk, minibus, pick up dan tronton. Tiga diantaranya membawa komoditas hewan dan tumbuhan seperti kambing, telur, dan tumbuhan.

“Alhamdulillah patroli kali ini tidak ditemukan adanya pelanggaran karantina terhadap alat angkut tersebut karena mayoritas merupakan lalu lintas barang lokal saja,” pungkas Ferdi.

Meningkat, Laris Tetes Tebu Gorontalo di Pasar Asia Tenggara

Gorontalo Utara – Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) kawal tetes tebu (cane molasses) jadi produk dari sektor perkebunan asal Gorontalo untuk diekspor ke mancanegara. Komoditas tetes tebu termasuk produk medium risk yang mensyaratkan Phytosanitary Certificate atau PC kepada negara tujuan.

“Sertifikasi Kesehatan Tumbuhan atau PC yang kami keluarkan setelah melalui rangkaian tindakan pemeriksaan karantina. Kami kawal hingga komoditas ekspor Gorontalo diterima di negara tujuan,” ujar Sriyanto yang mewakili Kepala Badan Karantina Pertanian saat lakukan kunjungan kerja di Pelabuhan Laut Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo (24/10).

Dari data sistem otomasi Karantina Pertanian, IQFAST mencatat tren ekspor tetes tebu meningkat dua kali lipat atau sebesar 128%. Ini terbukti dengan jumlah volume ekspor pada periode Januari hingga Oktober 2019 tercatat 27,4 ribu ton atau senilai Rp 46,1 miliar tujuan Vietnam dan Filipina. Sedangkan pada periode 2018 sebanyak 12 ribu ton atau setara dengan Rp 26,9 miliar diekspor tujuan Vietnam.

Dikatakan Sriyanto, hari ini tetes tebu disertifikasi sebanyak 16 ribu ton dengan nilai mencapai Rp 26,9 miliar diekspor ke Filipina. “Tren ekspor tetes tebu ini jelas meningkat, selain jumlah pengiriman maupun volume pengirimannya, negara tujuan ekspor tetes tebu juga bertambah,” terang Sriyanto.

Tetes tebu merupakan hasil samping pabrik gula yang sudah tidak dapat dikristalkan lagi. Tetes tebu merupakan limbah pabrik gula yang mempunyai manfaat sebagai bahan baku (molasses) di negara tujuan. Menurut Sriyanto, selain tetes tebu juga diekspor tepung kelapa (dessicated coconut) tujuan Inggris dengan volume 25 ton atau setara dengan Rp 490 juta.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Karantina Pertanian Gorontalo, Indra Dewa mengatakan, sebagai unit kerja di bawah Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, jajaran kerja Karantina Pertanian Gorontalo melakukan pengawalan terhadap kesehatan dan keamanan komoditas sesuai persyaratan negara tujuan ekspor.

Hal ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian untuk mendorong ekspor. Adalah program Agro Gemilang (Ayo Galakkan Ekspor Komoditas Pertanian oleh Generasi Milenial Bangsa) merupakan program untuk menggenjot ekspor produk pertanian dalam pemenuhan persyaratan SPS negara tujuan. Barantan juga telah lakukan berbagai terobosan maupun inovasi.

“Kami terus berupaya lakukan berbagai terobosan, melalui Karantina Pertanian Gorontalo inovasi SICERMAT diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam memperoleh layanan karantina,” pungkas Sriyanto.

Narasumber:

  1. drh. Sriyanto, Ph.D — Kepala Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian, Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian
  2. drh. Indra Dewa – Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo
  3. Dr. Ir. Darda Daraba M.Si — Sekda Provinsi Gorontalo

Berprestasi, Voli Putra Karantina Palangkaraya Kembali Raih Trofi Juara

Sampit (27/10) – Menjaga negeri memang menjadi tugas utama seorang Karantinawan dan Karantinawati, namun bukan hanya itu saja tugas yang diemban. Memberikan pemahaman masyarakat tentang karantina pertanian juga menjadi salah satu tugas yang harus terus dijalankan. Sudah tahukah SobatQ bahwa meningkatkan pemahaman masyarakat dapat dilakukan melalui ajang olah raga lho..

Tim bola voli putra binaan Karantina Palangkaraya melalui wilker Sampit turut serta dalam ajang Turnament Bola Voli Antar Perusahaan dan Instansi Se-Kotawaringin Timur. Turnamen ini diselenggarakan oleh Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) cabang Kotawaringin Timur pada tanggal 19-26 Oktober 2019. Pada turnamen tersebut, Tim Voli Putra berhasil menyabet juara 1 pada final yang diselenggarakan pada Sabtu (26/10) malam.

“ Kegiatan positif ini harus didukung dan dipupuk untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang perkarantinaan serta upaya penegakan pilar pre-empatif ”, ujar Bapak Ridwan Alaydrus SP.MP., Kepala Balai Karantina Palangkaraya.

Selain bola voli, Karantina Palangkaraya juga membina tim untuk cabang olah raga lain seperti bulu tangkis, esport hingga kicau mania. Program pembinaan ini telah berlangsung sejak tahun 2009 dan telah menorehkan berbagai prestasi.

Melalui kegiatan pembinaan ini diharapkan peran dan sosialisasi mengenai perkarantinaan semakin diketahui oleh masyarakat luas. Bravo!

#KarantinaPalangkaraya
#LaporKarantina🍎🐕

4 Negara Ini Jadi Langganan Dedak Gandum Cilegon

Cilegon — Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Cilegon mencatat 4 negara masing-masing Cina, Vietnam, Filipina dan Papua Nugini menjadi pasar ekspor produk samping gandum berupa dedak.

“Kita apresiasi pelaku usaha yang telah memberi nilai tambah menjadi produk ekspor dari bahan baku yang didatangkan dari luar,”

kata Andi Setiawan Petugas Karantina Tumbuhan Cilegon saat melakukan tindakan karantina di gudang pemilik PT. Bungasari Flour Mills Indonesia di Cilegon (21/10).

Menurut Andi, dedak gandum merupakan produk sampingan dari pengolahan biji gandum menjadi tepung.

Dedak gandum dihasilkan dari bagian terluar dari kulit gandum yang disebut bran dan kulit gandum bagian dalam yang disebut pollar, tambahnya.

Di negara tujuan, dedak gadum dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak karena memiliki kadar protein dan nutrisi yang tinggi.

Dari data sistem automasi perkarantinaan, IQFAST di wilayah kerja Cilegon di periode Jan – Oktober tahun 2018 berhasil membukukan ekspor dedak gandum sebanyak  12,3 ribu ton dengan nilai Rp. 39,6 milyar.

Sementara di periode yang sama ditahun 2019 tercatat volume 2,5 ribu ton dengan nilai Rp. 9,1 miliar. Tren kenaikan ekspor prosuk ini biasanya tercatat di akhir tahun dan diperkirakan akan mencapai angka yang kurang lebih sama dengan tahun lalu.

Layanan Ekspor Cepat : ‘Jemput Bola’

Dedak gandum ini menyimpan potensi diserang serangga gudang yang tidak diperbolehkan oleh negara tujuan ekspor. “Bebas hama gudang dan lainnya merupakan persyaratan teknis ekspor negara tujuan. Guna memastikan sehat dan aman, kami siapkan layanan pemeriksaan karantina dengan sistem ‘jemput bola’,” terang Andi.

Rangkaian tindakan pemeriksaan di gudang pemilik ini  dapat mempercepat proses bisnis eksportasi sebanyak 30%.

Secara rinci, Andi menjelaskan pemeriksaan fisik pada setiap kemasan, pengambilan sampel untuk dilakukan pemeriksaan secara laboratoris dan lainnya.

Setelah selesai dilakukan tindakan karantina dan dinyatakan sehat, dedak gandum ekspor dapat mengantongi sertifikat kesehatan tumbuhan atau Phytosanitary Certificate. “Karantina Pertanian sebagai otoritasi penjamin kesehatan dan keamanan sesuai persyaratan negara tujuan,” tutupnya.

Meningkat, Ekspor Kelinci Hias via Karantina Pertanian Soetta

Tanggerang – Kementan melalui Karantina Pertanian Soekarno Hatta melaporkan adanya peningkatan permintaan hewan hasil penangkaran berupa kelinci hias sebesar 73% di tahun 2019.

Kepala Karantian Pertanian Soekarno Hatta, Imam Djajadi, mengatakan berdasarkan data sistem automatisasi perkarantinaan, IQFAST di unit kerjanya, hinggA Oktober 2019 tercatat ekspor kelinci telah mencapai 425 ekor dengan nilai ekonomi sekitar Rp. 297,5 juta

Sementara total ekspor di tahun 2018 hanya mencapai 245 ekor atau senilai Rp. 171,5 juta.

“Selama dua tahun terakhir ini permintaan kelinci hias Indonesia datang dari negara Amerika, Filiphina, Belanda, Malaysia, Polandia, Pakistan dan Myanmar. Permintaan terbesar datang dari negara Pakistan. Sementara jenis kelinci hias yang digemari adalah jenis English Angora, Holland Hop, Netherland Dwarf, Fuzzy Loops dan Dwaft Hotot,” ungkap Imam.

HC untuk Menjamin Hewan Diterima di Negara Tujuan

Karantina Pertanian Soetta sebelum melepas ekspor telah memberikan health certificate bagi 50 ekor kelinci hias tujuan Pakistan.

“Health Certificate, sebagai dokumen persyaratan ekspor negara tujuan, dikeluarkan Karantina Pertanian Soekarno Hatta setelah pastikan kelinci dalam keadaan sehat,” kata Nuryani Zainuddin, Kepala Bidang Karantina Hewan Soekarno Hatta di Tangerang (22/10).

Menurut Nuryani, setiap kali pengiriman ekspor kelinci, petugas Karantina Pertanian Soekarno Hatta selalu melakukan pemeriksaan dokumen, keabsahan serta kesesuaian fisik dengan dokumen agar sesuai dengan persyaratan negara tujuan. Dilanjutkan dengan pengecekkan kesehatan melalui pemeriksaan klinis umum oleh dokter hewan karantina juga dilakukan sebelum health certificate diterbitkan.

“Jika jumlah kelinci lebih dari 20an ekor, maka kelinci-kelinci tersebut harus masuk Instalasi Karantina Hewan (IKH) selama satu hari, karena pemeriksaan klinis umum ini membutuhan waktu,” tambahnya.

Saat ini kelinci hias sedang digemari sebagai hewan peliharaan untuk meramaikan rumah atau bisa juga untuk diikutkan dalam berbagai kompetisi.

“Kita dorong pelaku usaha untuk tingkatkan ekspor dengan layanan karantina cepat dan tepat agar dapat diterima di negara tujuan sesuai persyaratan ekspornya,” pungkas Imam.

Dihimpit ASF, Indonesia Siapkan Strategi Pengawasan dan Perlindungan

Bogor – African Swine Fever atau demam babi Afrika sudah menyebar di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa dan Asia. Kejadian terbaru dan mengkhawatirkan adalah masuknya ASF ke Timor Leste, yang berbatasan darat dengan Indonesia.

Gambar : Petugas Karantina Tanjung Pinang tengah melakukan pemeriksaan babi di Pulau Bulan, Kepri sebelum dimasukkan ke alat amgkut yang akan diekspor ke Singapura (3/10)

“Ini sangat mengkhawatirkan, tapi inilah momentum kita bersatu agar jangan sampai ASF masuk ke NKRI,” ujar Agus Sunanto, Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian (Barantan) saat menjadi pembicara pada Seminar Internasional African Swine Fever di Bogor, Jawa Barat (19/10).

Strategi Kementan

Menurut Agus, Barantan sendiri telah mengambil posisi antisipatif terhadap situasi perkembangan penyakit yang menyerang ternak babi tersebut. Di antaranya memperketat serta meningkatkan kewaspadaan pengawasan karantina di berbagai tempat pemasukan melalui surat edaran Kepala Barantan. Barantan juga telah berhasil menggagalkan upaya pemasukan berbagai media pembawa virus ASF, seperti daging babi, dendeng, sosis, usus, dan olahan babi lainnya.

Gambar : Agus Sunanto – Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Badan Karantina Pertanian saat berbincang dengan awak media di Bogor (19/10)

Data di Karantina Pertanian Soekarno-Hatta memperlihatkan bahwa pada periode Januari hingga September, petugas karantina berhasil menggagalkan pemasukan media pembawa ASF sebanyak 225,28 kg yang berasal dari barang bawaan penumpang.

Selain melakukan pengawasan di pintu pemasukan di seluruh wilayah Indonesia, Agus juga menjelaskan bahwa pihaknya merangkul semua instansi terkait, baik di bandara, pelabuhan, dan pos lintas batas negara seperti Bea dan Cukai, Imigrasi, maskapai penerbangan dan agen perjalanan, serta dinas peternakan di daerah.

ASF Mengancam Peternakan Babi

African Swine Fever sendiri merupakan penyakit hewan eksotik dan termasuk dalam hama penyakit hewan karantina golongan I berdasarkan Kepmentan No. 3238/2009 atau belum ada di Indonesia. ASF disebabkan oleh virus DNA genus Asfivirus, familia Asfarviridae , yang dapat menyebabkan tingkat kesakitan (morbiditas) mencapai 100% dan tingkat kematian (mortalitas) pada ternak babi mencapai 100%. Oleh karenanya, menurut Agus, hal ini sangat berbahaya bagi peternakan babi di Indonesia.

Gambar : Ternak babi yang ada di Pulau Bulan, Kepri.

Sejarahnya, ASF sendiri muncul pertama kali pada tahun 1921 di Kenya dan saat ini endemik di sebagian besar sub-Sahara Afrika termasuk di Pulau Madagaskar dan telah meluas ke Benua Eropa. Kondisi terkini, wabah ASF telah sampai ke Asia yang dimulai dari Tiongkok pada bulan Agustus 2018 dan telah menyebar ke Mongolia (Januari 2019), Vietnam (Februari 2019), Kamboja (Maret 2019), Hongkong (Mei  2019), Korea Utara (Mei 2019), Laos (Juni 2019), Myanmar (Agustus 2019), Filipina, Korea Selatan dan Timor Leste (September 2019).

Penularan Virus ASF

Gambar : Agus Sunanto, Kapus KH Kehani saat berbicara pada Seminar Internasional African Swine Fever di Bogor (19/10)

Penularan ASF sendiri dapat terjadi melalui hewan hidup, baik melalui peternakan babi maupun babi liar. Mereka dapat bertindak sebagai penular, meski terlihat sehat. Juga vektor caplak lunak Ornithodoros sp dan babi liar dapat bertindak sebagai reservoir atau perantara. Babi yang positif ASF juga dapat menyebarkan (shedding) virus melalui kotoran dan berpotensi mengontaminasi berbagai peralatan kandang dan sepatu pekerja.

Penularan ASF juga dapat melalui pemberian pakan babi ( swill feeding ) dari sisa katering, sisa makanan hotel, restoran, dan sisa makanan penumpang dan awak asal negara wabah yang tidak dipanaskan minimal 70 °C selama 30 menit.

Potensi Masuknya ASF ke Indonesia

Terdapat beberapa titik kritis yang bisa menjadi celah masuknya ASF ke Indonesia seperti barang bawaan penumpang yang berupa daging babi atau produk daging babi yang diproses dengan pemanasan yang tidak cukup. Sisa-sisa katering dan sisa makanan bawaan penumpang dan awak alat angkut transportasi internasional (kapal laut, pesawat udara) yang digunakan sebagai pakan babi dapat menularkan virus ASF. Juga termasuk orang, petugas kesehatan hewan dan perlengkapannya seperti sepatu, baju, dan lainnya yang berasal atau berkunjung dari negara wabah atau tertular yang terkontaminasi pada saat mengunjungi suatu peternakan babi yang sedang wabah atau tertular.

Dampak Ekonomi

Agus menjelaskan lebih lanjut dampak ekonomi jika ASF sampai masuk ke Indonesia. Kematian akibat ASF akibat virus yang virulensi menengah berkisar 30-70% populasi, bahkan mencapai 100% pada virus yang virulensinya tinggi. Apabila dihitung 30% saja menyebabkan kematian maka kerugian peternakan babi dapat mencapai Rp 7,6 triliun.

Selain itu, Indonesia akan kehilangan pasar ekspor dan potensinya baik untuk babi maupun produk babi. Saat ini, Indonesia memiliki banyak peternakan babi dan merupakan salah satu pemasok utama bagi pasar Singapura. Berdasarkan data IQFast tahun 2018, ekspor babi hidup dari Indonesia sebanyak 279.278 ekor. Selain babi hidup, Indonesia juga mengekspor daging babi olahan sebanyak 613 kg atau bernilai sekitar Rp 837,9 miliar.

Dampak lainnya adalah hilangnya mata pencaharian peternak babi. Berdasarkan data sebanyak 285.315 peternak rakyat di Indonesia dapat kehilangan mata pencaharian. Dengan estimasi keuntungan bersih peternak sebanyak 30% dari berat hidup, maka pendapatan peternak sebesar Rp 256 miliar terancam hilang.

Selain kerugian ekonomi, menurut Agus, terdapat biaya program pengendalian penyakit ASF yang sangat tinggi yang harus dikeluarkan negara. Di antaranya untuk pengendalian lalu lintas, pengendalian vektor, biosekuriti, pemantauan dan surveilans, serta sosialisasi.

Juga ancaman hilangnya plasma nutfah asli Indonesia, yaitu babi lokal Indonesia seperti jenis babi Jawa berkutil (Sus verrucosus), babi Kalimantan (Sus barbatus), babi Sulawesi (Sus celebensis) dan Babirusa (Babyroussa babyrusa). Juga terganggunya sektor pariwisata.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita yang juga hadir dalam acara tersebut juga sepakat. Upaya pencegahan masuknya ASF ini menjadi tanggung jawab bersama, termasuk masyarakat dan media massa. Kerugian yang timbul jika ASF masuk ke Indonesia sangat besar dan akan menjadi beban masyarakat dan negara.

Agus Sunanto meminta agar masyarakat dan media turut peduli dan menginformasikan tentang bahaya ASF tersebut. “Masyarakat harus tahu ini, biar semua ikut menjaga mana yang tidak boleh dilakukan. Bukan karena kita melarang, tapi demi terjaganya NKRI,” pungkasnya.

Narasumber ;
drh. Agus Sunanto, MP. – Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Badan Karantina Pertanian, Kementerian

Kinerja Ekspor Produk Olahan Kelapa melalui Tanjung Priok Meningkat Hampir Dua Lipat

Jakarta – Kementerian Pertanian melalui unit pelaksana teknis Karantina Pertanian Tanjung Priok, kembali  mensertifikasi ekspor 109,48 ton produk olahan kelapa senilai Rp. 1,178 miliar ke Bangladesh dan Brasil.

“Kami sangat mengapresiasi pelaku usaha yang sudah mengekspor komoditas pertanian dalam bentuk produk olahan atau minimal setengah jadi, bukan lagi mengekspor barang mentah,” ujar Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian saat melakukan kunjungan kerjanya ke Laboratorium Karantina Priok di Jakarta, Jum’at (18/10).

Produk ekspor sub sektor perkebunan yang diekspor kali ini masing-masing berupa 20 ton kelapa parut kering  dengan nilai ekonomi senilai Rp. 197 juta tujuan Brasil dan  89,48 ton  kopra dengan nilai ekonomi Rp. 981 juta tujuan Bangladesh dan Pakistan.

Jamil juga menyampaikan data peningkatan eksportasi kelapa sebagai salah satu produk unggulan ekspor Indonesia.

Dari data dari sistem automatisasi perkarantinaan IQFAST di Tanjung Priok, ekspor kopra mengalami peningkatan hampir dua kali lipat.  Tercatat dari Januari hingga Oktober 2019 kinerja ekspornya telah mencapai 7.796 ton  dengan nilai Rp. 110,7 miliar, sementara pada periode yang sama ditahun 2018 ekspor kopra hanya 3.982 ton atau senilai Rp. 56,5 miliar.

“Kementan saat ini tengah mengkampanyekan agar membangun lebih banyak lagi industri kelapa. Agar yang diekspor tidak lagi kelapa bulat ataupun kopra, tapi sudah menjadi produk olahan yang akan memberikan nilai tambah pada komoditas kelapa,” jelasnya.

Pacu Ekspor,  Kementan Perkuat Laboratorium Uji Periksa Karantina

Dengan peran tindakan karantina yang semakin strategis guna memacu ekspor produk pertanian yakni sebagai otoritas karantina yang menjadi penjamin bagi pemenuhan pesyaratan teknis perdagangan internasional bagi produk yang di ekspor.

Pemenuhan persyaratan teknis atau Sanitary dan Phytosanitary (SPS Measure) menjadi kunci bagi masuknya produk hewan, tumbuhan dan olahan di pasar global.

“Setiap keputusan jaminan kesehatan dan keamanan produk pertanian seluruh petugas Karantina Pertanian dilapangan akan selalu merujuk kepada hasil uji laboratorium,” ungkap Jamil.

Menurutnya, laboratorium bagi karantina pertanian berperan sebagai peneguh ilmiah dalam setiap pengambilan keputusan  atau scientific justification atas analisa dan diagnosis petugas di lapangan.

Untuk  itu guna menjamin hasil pengujian, pihaknya juga menerapkan Standar Operasional Produsedur Alur Pengujian Sample. Dilakukan sistem pengkodean bertahap, dimana antara kode dari pengirim sample dan kode dari laboratorium akan berbeda. Sehingga penguji akan terjaga independensinya karena tidak mengetahui identitas sample yang diuji. Hasil uji dapat dijamin objektif dan sesuai tuntutan profesi.

Kepala Karantina Tanjung Priok, Purwo Widiarto yang mendampingi kunjungan kerja juga menyampaikan bahwa saat ini, laboratorium yang berada di area Pelabuhan Tanjung Priok telah mendapatkan akreditasi ISO SNI IEC 17025:2017, yakni standard internasional untuk laboratorium pengujian dan kalibrasi.

Dengan 18 ruang lingkup saat ini, pihaknya akan terus menambah agar dapat menjawab tantangan arus lalu lintas hewan dan tumbuhan yang meningkat.  Di tahun 2019 ini, akan bertambah ruang lingkup pengujian terhadap Pantoea stewartii dengan metode PCR untuk laboratorium tumbuhan serta antibodi Brucella dan identifikasi spesies dengan metode Elisa untuk laboratorium hewan.

“Penguatan laboratorium menjadi kebijakan strategis Barantan, bukan hanya layanan yang cepat tapi juga harus akurat. Ini sesuai dengan instruksi Menteri Pertanian untuk mengawal ekspor produk pertanian kita, jangan sampai ada yang ditolak di negara tujuan,” tutup Jamil.

Narasumber :

1. Kepala Badan Karantina Pertanian – Ir. Ali Jamil, M.P., Ph.D

2. Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok – Ir. Purwo Widiarto, M.MA

Kementan Catat Kinerja Eksportasi Kakao Olahan Jabar Naik 17,6%

Cileunyi — Kementan melalui Karantina Pertanian Bandung mencatat peningkatan eksportasi produk olahan kakao di akhir triwulan III tahun 2019 meningkat sebanyak 17,6%.

Dari data sistem automasi perkarantinaan, IQFAST diwilayah kerja Bandung eksportasi produk olahan kakao periode Januari sampai September tahun 2019 tercatat sebanyak 1.163 kali sertifikasi ekspor  ke pasar dunia dengan total volume sebanyak 16.456 ton dengan nilai Rp. 660,9 miliar.

Sementara pada periode sama di tahun 2018 sertifikasi ekspor hanya sebanyak 981 kali dengan total 13.515 ton dengan nilai Rp. 104 miliar.

“Alhamdulilah, produk olahan kakao asal Jawa Barat menunjukkan tren positif, saya harap margin keuntungan juga dibagi ke petani kakao agar dapat lebih sejahtera dan semangat menanam,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil saat lakukan monitoring pemeriksaan karantina di tempat pemeriksaan lain di gudang pemilik PT Sinar Pelita Jayaabadi, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Kamis (17/10).

Menurut Jamil, produksi kakao dalam negeri diarahkan untuk pasokan bahan baku industri kakao dalam negeri dan sekaligus untuk pasokan ekspor di pasar global.

Produk Olahan Kakao Indonesia, Terbaik di Dunia

Melansir dari situs Kementerian Pertanian, 4 Provinsi di Sulawesi telah ditetapkan sebagai sentra produsen utama komoditas kakao nasional. Keempat provinsi itu adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara. Dengan penetapan ini, Kementan secara konsisten memfasilitasi pengembangan kakao dari hulu sampai hilir.

Jawa Barat sendiri, tercatat setidaknya ada 7 industri olahan coklat baik dari skala kecil, menengah dan besar. Produk olahan berupa barang setengah jadi yakni powder, cake dan pasta. Kualitas olahannya yang dikenal sebagai yang terbaik didunia, membuat produk kakao olahan Jabar banyak digemari terus di pasar ekspor.

Jika kopi punya arabika dan robusta, cokelat punya tiga jenis biji yang tersebar di dunia. Pertama ada Forestero yang banyak terdapat di Afrika, sedangkan di Indonesia bisa ditemukan di Jawa Timur.

Lalu ada jenis Criollo yang bentuk buahnya lebih ramping, hampir seperti mentimun, tidak terlalu banyak dibudidayakan di Jawa dan sebagian Sulawesi.

Dan jenis ketiga, yang paling banyak dan tumbuh subur di Indonesia, yaitu jenis kakao Tinitario. Kakao jenis ini memiliki bentuk buah lonjong pajang dengan diameter besar di tengah.

Jenis terakhir ini yang dilepas Kepala Barantan sebanyak sebanyak 17 ton senilai Rp. 183,9 juta dengan tujuan Uni Emirat Arab.

Erwin Suriawan, selaku pemilik PT Sinar Pelita Jayaabadi menyampaikan apresiasi atas layanan karantina, tidak hanya cepat namun akurat. Pemenuhan persyaratan Sanitary dan Phytosanitary (SPS Measure) dari negara tujuan dapat dijamin oleh Karantina Pertanian Bandung dengan sertifikat kesehatan tumbuhan atau PC. Produk kami lancar di terima di negara tujuan, imbuh Erwin.

Pacu Ekspor Jabar, Program Agro Gemilang Digencarkan

Kepala Karantina Pertanian Bandung, Iyus Hidayat menyampaikan bahwa pada kesempatan yang sama turut dilepas 3 komoditas pertanian dan olahan lain, sehingga  total ekspor sebanyak  69,68 ton senilai Rp. 1,074 miliar.

Komoditas tersebut  berupa produk olahan kelapa milik PT Javakakao Industria berupa desicated coconut tujuan Arab Saudi sebanyak 25 ton senilai Rp. 443,3 juta. Produk olahan makanan kering milik PG Kaldu Sari Nabati Indonesia sebanyak  8,98 ton senilai Rp. 281,09 juta tujuan Fillipina.

Dan juga ekspor perdana dari ekspotir PT Furindo Sagala Persada berupa kolang kaling sebanyak 18,7 ton dengan nilak  Rp. 165,8 juta ke Filipina.

Iyus menyampaikan, sesuai kebijakan Kementan untuk memacu ekspor telah melakukan  terobosan layanan sekaligus mendorong tumbuhnya ragam komoditas dan pelaku usaha baru.

“Terus perkuat sinergisitas dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha. Jika ada hambatan termasuk akses pasar, sampaikan pada kami selaku fasilitator perdagangan produk pertanian agar di dorong dilevel negosiasi perdagangan internasional. Jangan ragu, kita pacu ekspor pertanian kita,”tandas Jamil.

Narasumber :

1. Ali Jamil, Ph.D – Kepala Badan Karantina Pertanian

2. Ir. Iyus Hidayat – Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bandung

Perdana, Kementan Lepas Kopi Amstirdam asal Jatim ke Australia

Pasuruan — Kopi berjenis robusta asal petani di kabupaten Malang masing-masing asal kecamatan Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo dan Dampit atau dikenal dengan Kopi Amstirdam terus melanglang buana.

Setelah menjadi langganan di 42 negara Asia dan Eropa, kini kopi dengan aroma dan cita rasa khas masuk perdana di  pasar Australia sejumlah 20 Ton senilai 455 juta rupiah.

“Alhamdulilah, satu lagi pasar kopi asal Jatim terbuka yaitu ke Australia,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil saat menyerahkan sertifikat kesehatan tumbuhan atau Phyosanitary Certificate (PC) sebagai persyaratan negara tujuan kepada ekspotir PT Asal Jaya di Malang, Jawa Timur, Selasa (15/10).

Jamil berharap, akan ada tambahan margin keuntungan bagi petani karena produk ditujukan untuk pasar ekspor, kita berbagi dengan petani agar bertambah kesejahteraan dan petani makin bersemangat menanam.

Selain kopi, pada hari ini dilepas juga 1000 Kg mangga harum manis ke Malaysia dengan senilai 360 juta rupiah.

Kementan Siapkan Program Agro Gemilang

Sesuai dengan instruksi Menteri Pertanian dalam mendorong eksportasi produk pertanian, Kementan melalui Barantan telah menggagas program Agro Gemilang.

Program yang ditujukan untuk membuka akses informasi dan layanan seluas-luasnya pelaku usaha agribisnis, khususnya kaum muda yang baru memasuki bisnis ekspor produk pertanian.

Fasilitasi layanan ekspor berupa bimbingan teknis pemenuhan persyaratan Sanitary and Phytosanitary (SPS), Sinergisitas dengan para pemangku kepentingan baik pusat, daerah dan pelaku usaha. Barantan telah siapkan aplikasi komoditas ekspor, i-MACE yang dapat diakses sebagai landasan kebijakan pembangunan pertanian berbasis ekspor. 

Program Ayo Galakkan Ekspor Komoditas Pertanian oleh Generasi Milenial Bangsa ini juga berupa terobosan layanan cepat proses bisnis karantina yakni berupa pemeriksaan di gudang pemilik, inline inspection dan layanan prioritas.

Sementara untuk perluasan akses pasar, melalui program agro gemilang ini Barantan lakukan terobosan layanan berupa sertifikat elektronik, e-Cert. Dengan layanan ini selain mempercepat proses di tempat pengeluaran juga menjadi jaminan bagi keberterimaan produk di negara tujuan.

Program ini juga mengajak partisipasi masyarakat dengan kampanye publik #BeraniEkspor.

Jamil menyebutkan bahwa partisipasi masyarakat sangat diperlukan khususnya untuk menjaga status kesehatan hewan dan tumbuhan agar tetap sehat, aman dikonsumsi dan laris di pasar dunia.”Laporkan dan periksakan hewan dan tumbuhan saat dilalulintaskan kepada petugas Karantina. Jika ingin ekspor, datang dan tanyakan program Agro Gemilang,” tegas Jamil.

Meningkat, Indikator Akselerasi Ekspor Produk Pertanian asal Jatim

Kepala Karantina Pertanian Surabaya, Musyaffak Fauzi menyampaikan data dari sistem automasi karantina pertanian IQFAST diwilayah kerjanya eksportasi produk pertanian asal Jawa Timur menunjukan tren peningkatan.

Tercatat nilai barang pada periode  1 September hingga 14 Oktober 2019 sebesar Rp. 3,75 triliun. Mussafak berharap dengan pihaknya menggencarkan program Agro Gemilang dapat terus memacu pertumbuhan, tidak saja volume, frekwensi dan ragam komoditas namun juga menumbuhkan eksportir muda. Jawa Timur miliki potensi sumber daya alam hayati yang besar, jangan ragu, berani ekspor, tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Haryanto pimpinan PT Asal Jaya mengapresiasi layanan cepat karantina. Layanan “jemput bola” dari Karantina Pertanian Surabaya membuat proses bisnisnya lebih cepat 30%, pungkasnya.

Narasumber:

  1. Ir. Ali Jamil, MP. Phd – Kepala Badan Karantina Pertanian
  2. Dr. Ir. M. Musyaffak Fauzi, SH. MSi – Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya

Kopi Kintamani Mendunia, Kementan Berikan Fasilitasi Ini

Badung — Rasanya yang khas beraroma jeruk dengan tingkat keasaman yang sedang membuat kopi berjenis arabika asal petani di Kabupaten Kintamani ini terus mewangi dipasar dunia. 

Aroma jeruknya berasal dari pohon jeruk yang secara turun temurun ditanam berdampingan dengan komoditas ini. Data dari sistem automasi Karantina Pertanian, IQFAST mencatat tren peningkatan 44% pada kinerja ekspor biji kopi hingga Oktober 2019 jika dibanding dengan periode sama di tahun 2018. Sebanyak 43,46 ton dengan nilai Rp 4,8 miliar ekspor Januari hingga Oktober tahun 2019 dibandingkan dengan masa yang sama tahun 2018 yang hanya 32,8 ton senilai Rp. 2,8 miliar. 

Negara tujuan ekspornya pun bertambah dari hanya 9 negara menjadi 13 negara diantaranya China, Saudi Arabia, Hongkong dan Austria. 

“Bali dengan segala keunggulan daya tariknya, terus mencatat prestasi kinerja ekspor pertanian. Kami sangat mengapresiasi kerjasama seluruh stake holder baik pusat, daerah dan pelaku usaha. Buat masyarakat di Bali, kami juga mengajak untuk bersama-sama petugas karantina menjaga status kesehatan hewan dan tumbuhan agar produk pertanian di Bali tetap aman dikonsumsi, lestari dan laris di pasar ekspor,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil saat lakukan kunjungan kerja ke Kantor Karantina Pertanian Denpasar, Seminyak, Kuta Utara, Badung, Bali (12/10). 

Menurut Jamil, selaku fasilitator perdagangan pihaknya menjadi penjamin kesehatan dan keamanan produk pertanian sesuai dengan protokol ekspor negara mitra dagang. Jamil juga melepas ekspor biji kopi Kintamani dengan volume 25 ton senilai Rp 3 miliar ke Korea Selatan dan Amerika Serikat. 

Biji kopi merupakan kelompok medium risk atau komoditas risiko sedang, dengan target pemeriksaan bebas hama Hypothenemus hampeii. Serangkaian tindakan karantina dilakukan guna memastikan produk memenuhi persyaratan Sanitary and Phytosanitary (SPS Measure). 

Dalam memberikan layanan karantina, Barantan telah menerapkan layanan ekspor cepat berupa sistem in line inspection yang dapat mempercepat waktu bongkar muat barang di tempat pengeluaran baik melalui bandar udara, pelabuhan dan lainnya. “Melalui layanan ini memungkinkan pemeriksaan karantina dilakukan sebelum proses pengemasan, sehingga waktu bongkar muat di dapat dipersingkat sekaligus menjamin produk pertanian aman dan sehat tiba di negara tujuan,” tambah Jamil. 

Genjot Agro Gemilang, Denpasar Catat Tren Peningkatan 

Sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman untuk pacu ekspor, Karantina Pertanian Denpasar bekerjasama dengan instansi terkait di Bali genjot program Agro Gemilang.

Program yang digagas Barantan dan telah diluncurkan Mentan diawal tahun 2019 ini mulai menunjukkan hasilnya. Kepala Karantina Pertanian Denpasar, I Putu Terunanegara menyampaikan kinerja eksportasi yang tercatat diwilayah kerjanya yakni peningkatan ragam komoditas sebanyak 43% hingga September 2019 dibanding periode sama tahun 2018. Kini sebanyak 207 jenis produk pertanian Bali menjadi unggulan ekspor setelah tahun sebelumnya hanya 145 jenis.

Indikator keberhasilan lain program ayo galakkan ekspor produk pertanian oleh generasi milenial bangsa ini adalah bertambahnya frekuensi pengiriman yang semula di tahun 2018 sebanyak 1.307 kali meningkat 27% menjadi 1.661 kali. Hal ini juga seiring dengan peningkatan jumlah eksportir sebesar 30% yaitu 526 eksportir sedangkan pada tahun 2018 sejumlah 405 eksportir.

Fasilitasi layanan ekspor, layanan ekspor cepat, sinegisitas dengan pemangku kepentingan, perluasan akses pasar adalah rangkaian program Agro Gemilang di Denpasar. Dan tidak ketinggalan adalah terus mengajak masyarakat dalam berbagai kegiatan khususnya ditujukan bagi generasi muda milenial untuk masuki bisnis ekspor komoditas pertanian, jangan ragu dan berani ekspor, imbuh Putu.

Pasar Ekspor dan Ragam Komoditas Baru

Pada kesempatan yang sama,  Kementan melalui Karantina Pertanian Denpasar juga melepas ekspor dengan total 46,2 ton atau setara dengan Rp. 5,7 milyar. Masing-masing adalah Kacang Mede sebanyak 20 ton senilai Rp. 2, 6 milyar ke Austria. Bawang Merah asal petani di Sumbawa sejumlah 1 ton senilai Rp. 15 juta yang dikirim perdana ke Jepang dan komoditas baru dan unik berupa tepung jangkrik – jumlah 100 kilogram senilai Rp. 35 juta ke Inggris.

“Kawal terus akselerasi ekspor komoditas pertanian, permudah dan layani eksportir, agar tren ekspor komoditas pertanian kita terus meningkat setiap tahunnya. Ini pesan pak Mentan,” pungkas Jamil.

Narasumber :

1. Ir. Ali Jamil, MP., Ph.D — Kepala Badan Karantina Pertanian

2. drh. I Putu Terunanegara, MM — Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar