Mengenal ASF atau Demam Babi Afrika

Halo SobatQ,

Taukah kalian apa itu Virus ASF?

Demam babi afrika (bahasa Inggris: african swine fever, disingkat ASF) adalah penyakit menular pada babi yang disebabkan oleh virus african swine fever. Virus ini dapat menginfeksi anggota famili Suidae (mamalia artiodaktil yang umum disebut babi atau celeng), baik babi yang diternakkan maupun babi liar. Penyakit ASF dapat menyebar dengan cepat dengan tingkat kematian yang tinggi sehingga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.

Virus ini merupakan satu-satunya spesies virus dalam famili Asfarviridae dan genus Asfivirus.Virus ini dikelompokkan dalam Grup I dalam sistem klasifikasi Baltimore, yaitu virus DNA dengan untai ganda.

Sejarah ASF

Demam babi afrika pertama kali diidentifikasi pada tahun 1921 di Kenya, Afrika Timur walaupun wabahnya telah terjadi sejak tahun 1909. Kasus penyakit ini tetap terbatas di benua Afrika hingga tahun 1957 pada saat ASF dilaporkan di Portugal kemudian selanjutnya menyebar ke berbagai negara di Eropa (Italia, 1967; Spanyol, 1969; Prancis, 1977; Malta, 1978; Belgia, 1985; dan Belanda, 1986), hingga ke Kepulauan Karibia (Kuba, 1971 dan 1980; Republik Dominika, 1978; dan Haiti, 1979) serta Amerika Selatan (Brasil, 1978).

Asia

Virus ASF ditemukan pada babi liar di Iran pada tahun 2010, tetapi setelah itu tak ada laporan kasus lagi di wilayah Timur Tengah. Di bulan Agustus 2018, Tiongkok melaporkan wabah demam babi afrika di provinsi Liaoning, di mana kasus ini merupakan yang pertama di Asia Timur. Kasus ASF pun menyebar ke negara Asia lainnya, yaitu Mongolia, Korea Utara, dan Korea Selatan. Beberapa ilmuwan Tiongkok di Universitas Nankai mendeteksi virus ASF pada Dermacentor, caplak keras pada kambing dan sapi.

Asia Tenggara

Pada bulan Februari 2019, Vietnam mengonfirmasi kasus demam babi afrika. Hal ini menjadikannya negara Asia Tenggara pertama yang terinfeksi penyakit ini. Secara berturut-turut, demam babi afrika juga ditemukan di Kamboja, Laos, Filipina, Myanmar, dan Timor Leste. Hingga bulan Desember 2019, tujuh negara di Asia Tenggara telah melaporkan kasus ASF.

Indonesia

Sejak penyakit ASF mulai memasuki benua Asia, pemerintah Indonesia telah meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini. Di akhir tahun 2019, terjadi wabah kematian babi di Provinsi Sumatra Utara yang membunuh lebih dari 10 ribu ekor babi. Berdasarkan hasil uji laboratorium, kematian ini disebabkan oleh penyakit demam babi klasik dan terindikasi serangan virus ASF.

Pada 12 Desember 2019, Kementerian Pertanian Republik Indonesia mengonfirmasi adanya wabah ASF melalui situs web Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO). Sementara itu, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) menerima laporan kejadian ASF dari pemerintah Indonesia pada 17 Desember 2019. Dalam laporan tersebut, pemerintah menyatakan bahwa sejak 4 September 2019 telah terjadi 392 kali wabah ASF yang menewaskan 28.136 ekor babi pada 16 kabupaten/kota di Sumatra Utara. Hasil positif didapatkan melalui uji laboratorium dengan metode PCR waktu nyata. Sumber infeksi belum dapat disimpulkan, tetapi penilaian risiko yang cepat menunjukkan bahwa transportasi babi hidup dari daerah lain dan kontaminasi virus dari pengurus hewan, kendaraan, dan pakan berperan dalam infeksi ini.

Pemerintah secara resmi mengumumkan kejadian wabah melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 820/KPTS/PK.320/M/12/2019 tentang Pernyataan Wabah Penyakit Demam Babi Afrika (African Swine Fever) pada Beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara. Daerah yang dinyatakan sebagai daerah wabah yaitu Kabupaten Dairi, Humbang Hasudutan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Karo, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, dan Langkat, serta Kota Tebing Tinggi, Pematangsiantar, dan Medan.

Penyebab

Resistansi virus ASF terhadap perlakuan fisik dan kimiawi yaitu:

  • Temperatur: Sangat resistan terhadap temperatur rendah. Terinaktivasi setelah dipanaskan pada 56 °C selama 70 menit atau 60 °C selama 20 menit.
  • pH: Terinaktivasi pada pH<3,9 atau >11,5 pada media tanpa serum. Adanya serum meningkatkan resistansi virus, misalnya bertahan hingga pH 13,4. Virus dapat bertahan hingga 21 jam tanpa serum dan 7 hari dengan serum.
  • Disinfektan: Rentan terhadap eter dan kloroform. Terinaktivasi pada 8/1000 natrium hidroksida (30 menit), pada hipoklorit dengan konsentrasi klorin antara 0,03% dan 0,05% (30 menit), pada 3/1000 formalin (30 menit), pada 3% orto-polifenol (30 menit), dan pada senyawa iodin.
  • Kelangsungan hidup: Tetap bertahan lama pada darah, feses, dan jaringan; terutama pada produk babi terinfeksi yang tidak dimasak atau kurang dimasak. Dapat berkembang biak pada vektor (Ornithodoros sp.)

Cara Penyebaran dan Penularan

ASF dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Babi hutan telah diidentifikasi sebagai salah satu dari beberapa kemungkinan penyebab penyebarannya, serta dapat menyebar melalui serangga seperti kutu. Namun, virus ini juga dapat bertahan hidup beberapa bulan dalam daging olahan, dan beberapa tahun dalam daging babi beku, sehingga produk daging menjadi perhatian khusus untuk penularan lintas batas.

SobatQ, ingat untuk selalu #LaporKarantina demi menjaga keanekaragaman hayati Negeri kita yaa..

Refrensi

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Demam_babi_afrika
  • https://tirto.id/mengenal-demam-babi-afrika-atau-asf-gejala-dan-cara-penyebarannya-ejGd
Close Menu