Skip to content Skip to left sidebar Skip to right sidebar Skip to footer

KEMENTAN TETAP WASPADA, PERKETAT PENGAWASAN LALULINTAS HEWAN DI SOETTA

Tanggerang — Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Soekarno Hatta melaporkan sejak penundaan penerbangan ke dan dari mainland RRT atau Tiongkok Daratan pada Rabu 5 Februari 2020 pukul 00.00 WIB belum menemukan hewan hidup atau live animals  dari negara tersebut ke Indonesia.

“Sejak penundaan dan juga pelarangan masuknya hewan hidup dari Daratan Cina  ke Indonesia, sampai saat ini belum ditemukan lalu lintas hewan hidup dari dan ke Cina,” kata Imam Djayadi, Kepala Karantina Pertanian Soekarno Hatta di Cengkareng, Tanggerang (28/2).

Menurut Imam, pengawasan yang dilakukan oleh unit kerja dibawah Badan Karantina Pertanian (Barantan) di pelabuhan internasional terbesar ini  tidak hanya berfokus pada negara Cina Daratan,  tetapi juga pada negara negara wabah lainnya.

Menurutnya, sejak tanggal 5 Februari 2020 sampai dengan hari ini, telah tercatat pemasukan 828 ekor hewan hidup yang merupakan inang dari virus corona yang berasal dari negara lain yang terdampak wabah Covid 19.

Hewan tersebut berasal dari Jepang, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Thailand, Hongkong, Vietnam, Taiwan, Amerika Serikat, Rusia, Itali, Jerman, Kamboja, Finlandia, Perancis, Brazil, Australia, dan Philipina.

“Wabah penyakit Covid 19 sudah semakin meluas, sehingga upaya pencegahan dan mitigasi juga kami tingkatkan,” terang Imam.

Pihaknya bersama-sama dengan instansi terkait di Bandar Udara Soekarno Hatta telah membentuk  pokja dalam pengawasan lalu lintas hewan hidup dari mainland RRT dan negara wabah lainnya; melakukan koordinasi untuk memantau penerbangan dari dan ke mainland RRT serta negara wabah lainnya, terang Imam.

Pada pelaksanaan dilapangan, mitigasi juga dilakukan yakni pejabat karantina yang bertugas sebelum pesawat mendarat melakukan identifikasi penerbangan airline dan manifest pesawat terhadap kemungkinan adanya hewan hidup dari dan ke mainland RRT serta negara wabah lainnya.

Saat pesawat dari dan ke mainland RRT dan negara wabah lainnya mendarat, serangkaian tindakan karantina juga dilakukan terhadap hewan hidup bawaan. Antara lain dilakukan pengukuran suhu badan dan desinfeksi. Pihaknya juga akan melakukan pengambilan sampel untuk dilakukan pengujian jika terdapat kecurigaan terinfeksi penyakit.

Untuk hewan hidup yang berasal dari negara terjangkit wabah ini,  dilakukan pengasingan dan pengamatan  selama 7 sampai 14 hari di Instalasi Karantina Hewan Soekarno Hatta. Lebih lama dari yang biasa dilakukan yakni hanya selama 3 hari. Bentuk antisipasi dan pengetatan pengawasan diharapkan dapat menghadang penyebaran penyakit.

Pencatatan dan pelaporan lalu lintasnya  juga dilakukan. “Ini sesuai dengan instruksi pak Mentan untuk menerapkan maximum security terhadap pengawasan lalu lintas hewan hidup dalam kondisi wabah global ini,” papar Imam.

Pengawasan Ketat ASF

Selain wabah penyakit Covid 19 pada manusia, Karantina Pertanian Soekarno Hatta juga melakukan pengawasan ketat terhadap lalu lintas produk babi yang dapat membawa penyakit ASF (African Swine Flu).

Seperti ketahui, wabah ini  telah melanda China, Hongkong, Austria, Myanmar, Rusia, Korea Utara, Cambodja, Philipine dan beberapa negara lainnya.

ASF merupakan penyakit demam babi yang menyerang ternak babi dengan mortalitas 100% sehingga apabila masuk ke Indonesia dapat menimbulkan kerugian ekonomi ekspor dengan nilai yang hilang sebesar Rp 3,05 triliun (BPS, 2018) belum termasuk hilangnya pendapatan peternak dan naiknya harga babi di dalam negeri.

Menurut catatan, pada tahun 2019 Karantina Pertanian Soekarno Hatta telah menahan 32 kali lalulintas produk babi asal luar negeri. Dan sebanyak 0,3 ton produk daging babi ini telah dimusnahkan.

Sementara sepanjang bulan Januari 2020 sampai dengan saat ini telah menahan sebanyak sebesar 50 kg  berupa daging segar, sosis dan daging asap babi asal Cina yang terdeteksi positif mengandung virus ASF. “Produk bervirus ini telah juga kami musnahkan,” kata Imam.

Sampah Makanan Penerbangan, Ancaman ASF

Kepala Bidang Karantina Hewan Karantina Pertanian Soekarno Hatta, Nunung … turut memberikan penjelasan  bahwa rute  penyebaran virus ASF lainnya melalui paraktik swill feeding yaitu memberikan sisa sisa katering/dapur dalam bentuk sisa-sisa makanan yang dicampur dengan air untuk diberikan kepada babi.

Menurut Nunung, penelitian menunjukkan bahwa 62% dari 21 kejadian ASF pertama kali di China berkaitan dengan swill feeding. Sisa katering Internasional merupakan penyebab kejadian ASF di Uni Eropa (Portugal 1957, Malta 1978, Sardinia 1978 Spanyol 1978, Belanda 1995). Hal ini diperkuat juga bahwa virus ASF dapat bertahan pada sampel daging dan olahannya selama 30-1000 hari lamanya tergantung dari jenis produknya.

Diperlukan strategi penguatan disposal yang layak dari sisa-sisa makanan bandar udara yang mungkin mengandung produk-produk daging babi yang tidak diolah. ASF juga ancaman selain bagi kesehatan dan kerugian ekonomi, diperlukan kerjasama masyarakat juga, tambah Nunung.

Pencegahan masuknya Covid-19 di Indonesia, serta penyakit penyakit hewan dan tumbuhan lainnya yang berpotensi merugikan juga membahayakan kelestarian alam serta dampak ekonomi harus dilakukan bersama.

“Pengawasan ketat dan koordinasi komunitas Bandara harus terus ditingkatkan. Dan yang tidak kalah penting adalah  partisipasi masyarakat melalui bantuan media untuk melaporkan kepada petugas saat melalulintaskan produk pertanian juga sangat kami harapkan,” pungkas Imam.

Narasumber:

1. Imam Djajadi, SP.,MM – Kepala Balai Besar Karantina Soekarno Hatta

2. Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si – Kepala Bidang Karantina Hewan, BBKP Soekarno Hatta